Suite Francaise : Tragedi
Cinta Dan Kehidupan Pada Era Nazi Di Perancis
Judul Buku : Suite Francaise : Tragedi Cinta Dan Kehidupan Pada
Era Nazi Di
Perancis
No. Isbn : 9786028579803
Penulis :
NN
Penerbit : Qanita
Tahun Terbit : 2011
Jumlah Halaman : 640
Kategori : Kisah Nyata
LabelTeks Bahasa : Indonesia ·
Suite Francise adalah sebuah
mahakarya dari Irene Nemirovsky yang dalam ceritanya penulis berusaha
menggambarkan senyata mungkin kegelisahan dan penderitaan masyarakat Prancis pada kurun waktu
Perang Dunia II. Irene Novirosky menggambarkan keadaan itu melalui sederetan karakter yang mewakili masyarakat Prancis
dari berbagai kelas sosial.
- Badai di Bulan Juni
Bagian pertama novel ini diberi judul “Badai di
Bulan Juni”, mengambil waktu mulai dari bulan Juni 1940 saat tentara
Jerman memulai pendudukan atas Prancis . Berikut ini adalah karakter-karakter
yang ada di dalamnya:
- . keluarga Péricand, keluarga kaya dan terhormat. Philippe, anak lelaki tertua pasangan Péricand adalah seorang pendeta, adiknya Hubert remaja delapan belas tahun yang masih kekanak-kanakan, dan tiga adik mereka, Bernard, Jacqueline, dan Emmanuel masih kecil-kecil. Kakek Péricand , sang ahli waris keluarga Maltête dari Lyon, sudah cacat dan duduk di kursi roda. Dengan kekayaan yang mereka miliki, keluarga Péricand selalu menyisihkan sebagian untuk amal sesuai dengan kewajiban penganut Kristen yang baik, demikian kata Madame Péricand.
- Penulis Gabriel Corte, kaya dan terkenal, namun sangat sombong. Corte punya banyak wanita simpanan, namun hanya satu yang “resmi”, yaitu Florence.
- Mewakili rakyat kelas menengah, ada pasangan Michaud yang sederhana dan hidup dengan harmonis. Maurice sang suami bekerja sebagai karyawan bagian keuangan dan Jeanne sang istri sekretaris di bank yang dipimpin Monsieur Corbin. Pasangan memiliki seorang putra, Jean-Marie, yang ikut berperang membela Prancis.
- Charles Langelet, seorang pria kaya kolektor barang-barang indah, yang dikenal sangat kikir.
Keluarga
Péricand, Gabriel Corte dan Florence, pasangan Michaud, Monsieur Corbin, dan
juga Charles Langelet mempunyai tujuan yang sama yaitu pergi sejauh mungkin
meninggalkan Paris karena kota itu akan diduduki tentara Jerman. Disini kita
akan mulai megetahui apa saja yang dialami oleh masyarakat Perancis melalui
tokoh-tokoh tadi dalam perjalanan mereka meniggalkan Paris. Mereka berusaha
pergi dari Paris ke tempat tujuan masing-masing, di tengah ancaman bom dan
tembakan dari pesawat-pesawat Jerman, belum lagi ancaman perampokan dari sesama
warga sipil. Segalanya kacau balau. Mulai dari mada Perichand yang marah-marah
ketika anak-anaknya membagikan coklat kepada orang-orang disekitarnya, Corte
yang menolak kamar hotel berukuran kecil dan tinggal satu-satunya yang tersisa
namun akhirnya ia terpaksa bermalam disitu dan pasangan Michaud yang tetap
bersabar meski lelah berjalan dalam panas nya bulan Juni dan mengkhawatirkan keselamatan
putranya Jean-Marie. Sementara itu Jean-Marie yang terluka, ditemukan dan
dirawat oleh keluarga petani yang memiliki dua orang putri, yang pertama putri
kandung dan yang satunya lagi putri angkat: Cécile dan Madeleine dan keduanya
menyukai Jean-Merrie.
·
Dolce
Bagian kedua yang berjudul “Dolce” menceritakan
bulan-bulan pertama pendudukan Jerman di Prancis. Ada beberapa karakter baru,
antara lain:
- Keluarga Angellier dari kaum borjuis, yang terdiri dari Madame Angellier dan menantu perempuannya, Lucile. Gaston, anak lelaki Madame Angellier dan suami Lucile, ikut berperang dan sedang ditawan oleh Jerman. Madame Angellier seorang wanita yang otoriter dan dominan, sedangkan Lucile yang cantik penyendiri dan kutu buku. Kedua wanita yang bertolak belakang ini tinggal di sebuah rumah indah di Bussy, desa yang pada saat itu diduduki tentara Jerman. Seperti di banyak rumah lainnya, mereka harus menerima seorang perwira Jerman untuk tinggal dalam rumah mereka. Perwira Jerman yang tinggal di rumah Angellier bernama Bruno von Falk, pemuda tampan dengan mata besar dan rambut pirang. Walau pada mulanya Lucile bersikap kaku terhadap “musuh dalam selimut” ini, namun keramahan Bruno membuatnya luluh dan akhirnya mereka pun berteman. Hubungan pertemanan ini lambat laun berubah menjadi sesuatu yang lain, apalagi karena Lucile tak benar-benar mencintai suaminya yang serong. Hal ini tak luput dari pengamatan Madame Angellier yang merasa Lucile telah mengkhianati putranya.
- Vicomte dan Vicomtesse de Montmort adalah sepasang bangsawan yang hipokrit. Sang Vicomtesse berseru di depan murid-murid sekolah supaya mereka “bermurah hati” dan “tidak memikirkan diri sendiri”, sementara ia sendiri memakai sepatu seharga delapan ratus lima puluh franc. Ada kebencian turun temurun antara keluarga Sabarie dan keluarga Montmort.
- Keluarga Sabarie—keluarga petani yang merawat Jean-Marie Michaud—kembali muncul dalam bagian kedua novel ini. Madeleine sudah menikah dengan Benoît, putra keluarga Sabarie, meskipun ia masih mencintai Jean-Marie. Karena pertikaian dengan perwira Jerman yang tinggal di rumah mereka (Benoît cemburu buta melihat perwira itu menggoda istrinya), Benoît melarikan diri dan akhirnya bersembunyi di rumah keluarga Angellier.
Suite Française sudah difilmkan pada tahun 2013 dengan bintang Michelle Williams sebagai Lucile Angellier, Matthias Schoenaerts sebagai Bruno von Falk dan Kristin Scott Thomas sebagai Madame Angellier,dll.
Menurut
saya cerita yang paling menarik adalah di bagian Dolce karena disini banyak
sekali kisah-kisa cinta yang bisa dikatakan terlarang, yang menjadikan konflik
di novel ini tidak hanya mengenai perang saja. Hubungan antara Luice dan
tentara Jerman yang juga sudah menikah adalah satu yang membuat saya menarik. Kisah
Beniot yang memiliki masalah dengan tentara Jerman karena kecemburuan nya
atapun kisah Medeliene dan Jean-Merrie adalah hal-hal yang cukup menarik juga
dan yang juga menarik adalah pendeta Phlippe yang meniggal karena anak-anak
yatim piatu yang ia bawa bersamanya. Pada awalnya alurnya memang sangat sulit
untuk dimengerti apalagi banyak tokoh yang diceritakan terutama ketika penulis
berusaha memindahkan topik bahasan dari tokoh yang satu ke tokoh yang lainnya
disitu cukup membuat kening berkerut J hehe tapi untuk sebuah mahakarya yang belum usai novel ini
sangat menarik dan nyata, Irene Namurovsky berhasil menggambarkan setiap tokoh
dengan beban yang mererka pikul selama perang berlangsung dan membawa pembaca
khushnya saya merasakan kegelisahan setiap tokoh seperti saya berada pada masa
itu.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar